Air beriak tanda tak dalam vs Air tenang menghanyutkan.
Mungkin kita sebagian sepakat bahwa saat ini, zaman dimana media sosial bebas digunakan untuk berpendapat, kiita menyaksikan banyaknya orang-orang yang kurang ilmu namun banyak berbicara, bahkan sampai tidak sadar kalo sedang mempertontonkan kebelumtahuannya. Di sisi lain, ada juga orang yang diam-diam saja meskipun mereka berilmu, alasan mengapa orang-orang berilmu ini diam adalah menganggap percuma dan membuang energi meladeni orang-orang belum pintar ini.

Imam Syafi’i pernah berkata

“Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap terbaik adalah diam, tidak menanggapi.”

Orang yang memiliki ciri sebagaimana Air beriak tanda tak dalam juga pernah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadist,

“Tidak ada satu kaum yang tersesat setelah mendapat petunjuk, melainkan karena mereka suka berjidal (mendebat).

Mengapa demikian? Apakah berdebat dilarang?

Kemudian Rasulullah membaca ayat:

“Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. (QS Az-Zukhruf 43:58)”(HR.At-Tirmidzi).

Debat yang sebaiknya dihindari adalah debat yang hanya membuang waktu, energi dan sia-sia, atau dengan kata lain debat dengan orang-orang yang jahil dan lebih suka berbantah-bantahan.

Well,
zaman medsos ini kita juga perlu bijak dalam menjaga jempol (lisan dan tulisan) dan tidak mudah terprovokasi dengan kaum-kaum Air Beriak Tanda Tak Dalam tersebut,

sebab Imam Syafi’i pernah berkata
“Sikap diam terhadap orang bodoh adalah suatu kemuliaan. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan.”

Tidak ikut berdebat kusir bukanlah tanda bahwa orang-orang Air tenang menghanyutkan ini akan tampak bodoh.

Sebab,
Apakah kamu tidak melihat bahwa seekor singa itu ditakuti lantaran ia pendiam? Sedangkan seekor anjing dibuat permainan karena ia suka menggonggong? (Imam Syafi’i)