Enam Topi Berpikir

Pada 1985, Edward De Bono merancang metode Enam Topi untuk berpikir lebih baik, suatu metode yang akan membantu Anda memperbaiki percakapan sehingga mengembangkan cara berpikir positif. Metafora enam topi berwarna, putih, merah, hitam, kuning, hijau dan biru, digunakan untuk menyejajarkan para pemikir atau para peserta diskusi agar mereka semua melihat ke arah yang sama pada waktu yang bersamaan. Sangatlah penting bahwa semua orang memakai topi yang sama pada saat yang sama. Jangan sampai orang-orang yang berbeda memakai topi yang berbeda pula.

Mengapa harus topi?
Anda bisa memakai atau melepas topi secara mudah dan sengaja. Topi bisa diasosiasikan dengan pemikiran “Kenakan topi berpikirmu.”

Topi digunakan untuk menunjukkan sebuah peran “Memakai topi polisi/topi orangtuaku” dan sebagainya. Topi tersebut tidak perlu betul betul hadir se-cara fisik. Sekarang, pelbagai ruang pertemuan pimpinan di seluruh dunia memasang poster ber-gambar topi di dinding atau simbol topi kecil yang bisa diletakkan di meja. Meskipun demikian, topi tersebut hanya sebuah metafora.

Topi Putih
Topi putih mewakili kertas dan cetakan komputer. Topi putih melambangkan “informasi”. Ketika topi putih sedang dipakai, semua orang akan memusatkan perhatian pada informasi. Bukan sekadar masalah biasa ketika ada satu orang mengatakan sesuatu dan yang lain tidak menyetujui. Jika topi putih dipakai, semua orang akan memusatkan perhatian pada informasi, secara paralel.

Apa yang kita ketahui?
Apa yang perlu kita ketahui?
Apa yang terlewatkan?
Pertanyaan-pertanyaan apa yang harus kita ajukan ?
Bagaimana kita mendapat informasi yang kita
perlukan ?

Informasi bisa berkisar dari pelbagai fakta yang dapat dipastikan kebenarannya sampai informasi ringan, seperti rumor dan pengalaman pribadi.

Jika ada informasi yang berlawanan, kedua versi tersebut akan diletakkan secara berdampingan. Sebagai contoh: “Pesawat terakhir ke New York berangkat pada pukul 21.30”, dan “Pesawat terakhir ke New York berangkat pada pukul 22.30.” Kedua versi ini dicatat. Ketika diperlukan kepastian kebenaran, saat itulah dilakukan usaha untuk melihat versi mana yang benar. Sekarang, semua orang yang terlibat berusaha sekuat tenaga untuk menjajaki subjek itu dan memamerkan informasi yang tersedia, dan informasi yang dibutuhkan. aukan sekadar permasalahan mencari informasi yang sesuai dengan sudut pandang dan kasus Anda. Tidak jauh berbeda dengan meminta semua orang untuk “melihat ke utara” dan melaporkan apa yang mereka lihat. Sekarang, setiap orang berusaha untuk menggambarkan apa yang dia lihat seakurat mungkin.

Topi Merah
Warna merah sering diibaratkan sebagai api yang hangat. Topi merah melambangkan emosi, perasaan, dan intuisi. Topi merah adalah topi yang sangat penting. Ketika berpikir secara normal, perasaan dan emosi Anda seha
rusnya tidak ikut terlibat. Padahal, emosi itu pasti ada, Anda hanya menyamarkan emosi di balik logika. Jadi, sekalipun emosi tidak diizinkan, emosi itu akan tetap memengaruhi semua pemikiran yang ditawarkan. Topi merah mengizinkan emosi dan perasaan. Topi merah mengesahkan emosi dan memberi sebuah tempat yang resmi:

Saya sama sekali tidak menyukai gagasan ini.
Saya merasa bahwa rencana ini tidak akan berhasil.
Intuisi saya mengatakan bahwa menaikkan harga akan merusak pasar.
Naluri saya mengatakan bahwa rencana ini sangat bahaya.
Saya rasa, rencana ini membuang waktu saja.

Hal yang sangat penting adalah bahwa dengan mengenakan topi merah, Anda tidak harus memberikan alasan apa pun untuk “perasaan” Anda. Anda cukup menunjukkan perasaan Anda. Perasaan itu ada dalam diri Anda, jadi Anda tunjukkan saja. Alasannya, bahwa dalam banyak kasus, alasan alasan di balik perasaan tidak diketahui dengan jelas (seperti halnya intuisi). Oleh karena itu, orang sering kali enggan mengemukakan perasaan jika tidak dapat memberikan alasan. Jadi, alasan tidak harus diberikan, bahkan meskipun alasan itu diketahui. Intuisi bisa berdasarkan pada pengalaman di lapangan. Misalnya:

Intuisi saya mengatakan bahwa dialah orang yang tepat untuk pekerjaan ini.
Intuisi saya mengatakan bahwa biaya untuk proyek ini akan meningkat cepat.
Intuisi saya mengatakan bahwa ada politik internal kantor di balik keputusan tersebut.
Intuisi saya mengatakan bahwa perekonomian akan mulai membaik kuartal mendatang.

Intuisi merupakan penilaian yang rumit. Mungkin pemikir bahkan tidak sadar akan semua komponen yang masuk dalam penilaian itu. Intuisi sering kali benar, tetapi tidak selalu. Ketika orang- orang memberi tahu Einstein tentang Prinsip Ketidakpastian Heisenberg, Einstein menjawab bahwa intuisinya mengatakan alam tidak bekerja dengan cara seperti itu dan “Tuhan tidak suka bermain dadu”. Tampaknya, intuisi Einstein salah. Akhirnya, intuisi hanya dapat didasarkan pada pengalaman dan pemikiran pribadi. Meskipun demikian, intuisi merupakan bahan yang berguna, komponen yang berguna, dalam pemikiran. Ada beberapa bidang yang mengharuskan keputusan- keputusan diambil berdasarkan intuisi karena tidak ada cara lain: “Intuisi saya mengatakan bahwa proposal ini tidak akan diterima oleh kedua belah pihak dan konflik akan terus berlanjut.” Atau, “Intuisi saya mengatakan bahwa gaya ini tidak akan menjadi populer.” Jika tidak ada cara lain untuk menyelidiki sesuatu, intuisi memegang peranan panting. Dalam sejumlah kesempatan, intuisi merupakan salah satu bahan atau faktor yang harus diperhitungkan.

Karena topi hitam mungkin mengindikasikan bahaya, masalah, dan kesalahan, bukan berarti topi hitam adalah “topi yang jelek”. Dokter yang selalu berhubungan dengan penyakit tidak lantas menjadikan dia orang yang buruk. Petugas pengawas yang mengawasi jika ada batu karang di depan kapal, adalah orang yang sangat baik.

Karena topi hitam mungkin mengindikasikan bahaya, masalah, dan kesalahan, bukan berarti topi hitam adalah “topi yang jelek”. Dokter yang selalu berhubungan dengan penyakit tidak lantas menjadikan dia orang yang buruk. Petugas pengawas yang mengawasi jika ada batu karang di depan kapal, adalah orang yang sangat baik.

Topi Hitam
Topi inilah yang paling sering digunakan dalam perilaku yang normal. Topi hitam adalah dasar untuk “berpikir kritis”. Kata “kritis” berasal dari bahasa Yunani “kritikus”, yang berarti menilai, dan pemikiran kritis adalah pemikiran yang menilai:
apakah ini benar atau salah? Topi hitam adalah dasar bagi perdebatan dan pemikiran Barat secara umum. Topi hitam adalah topi yang sangat bagus dan mungkin yang paling berguna dibandingkan dengan topi yang lain. Topi hitam mencegah kita untuk melakukan hal-hal yang salah, ilegal, atau ber bahaya. Saya cenderung memilih untuk menggunakan kata “waspada” dengan topi hitam. Kata-kata lain yang mungkin adalah “hati- hati” atau “penilaian risiko”, dan kita bisa bertanya pada diri kita sendiri:
“Apakah ini sesuai?”

Apakah ini sesuai dengan nilai-nilai kita?
Apakah ini sesuai dengan sumber daya kita?
Apakah ini sesuai dengan strategi dan sasaran kita?
Apakah ini sesuai dengan kemampuan kita ?

Karena topi hitam mungkin mengindikasikan bahaya, masalah, dan kesalahan, bukan berarti topi hitam adalah “topi yang jelek”. Dokter yang selalu berhubungan dengan penyakit tidak lantas menjadikan dia orang yang buruk. Petugas pengawas yang mengawasi jika ada batu karang di depan kapal, adalah orang yang sangat baik.

Topi hitam dapat digunakan dengan cara-cara yang berbeda:

untuk menunjukkan kesalahan dalam logika (itu tidak berkaitan dengan … )
untuk menunjukkan informasi yang tidak tepat
untuk menunjukkan kesalahan dan kelemahan
untuk menunjukkan mcngapa sesuatu tidak sesuai
untuk menunjukkan “Sisi negatif’
untuk menunjukkan masalah-masalah potensial

Secara umum, topi hitam meliputi seluruh aspek “kewaspadaan”.

Topi Kuning
Topi hitam sangat berperan dalam budaya pemikiran kita, dalam berargumentasi dan bidang- bidang lain. Topi hitam juga berperan besar dalam pendidikan. Karena tujuan pendidikan adalah untuk memberi tahu anak- anak “bagaimana sebenarnya dunia ini”, muncul kebutuhan untuk memberi tahu mereka ketika mereka menemukan sesuatu yang tidak bares. Sebaliknya, topi kuning hampir selalu diabaikan. Di bawah topi kuning, kita mencari nilai, manfaat, dan alasan sesuatu harus berfungsi.
Aspek positif dari pemikiran sering kali diabaikan. Kita perlu mengembangkan “kepekaan nilai” yang berarti peka terhadap nilai. Tanpa kepekaan nilai, kreativitas akan menjadi pemborosan waktu saja. Saya pernah mengikuti sejumlah pertemuan kreatif yang menghasilkan gagasan- gagasan yang bagus, tetapi bahkan orang- orang yang menghasilkan gagasan- gagasan tersebut tidak bisa mellhat nilai sesungguhnya dari gagasan- gagasan mereka sendiri.

Aspek positif dari pemikiran sering kali diabaikan. Kita perlu mengembangkan “kepekaan nilai” yang berarti peka terhadap nilai. Tanpa kepekaan nilai, kreativitas akan menjadi pemborosan waktu saja.

Kepekaan nilai berarti melihat sesuatu dengan maksud menemukan nilai- nilai di dalamnya. Kita sangat siap untuk menemukan kesalahan, tetapi sama sekali tidak siap untuk menemukan nilai.
Secara menyeluruh, prasangka selalu mengarah pada hal-hal yang negatif. Dengan memakai topi kuning, wawasan-wawasan besar dapat muncul. Orang tiba- tiba melihat nilai- nilai yang belum pernah mereka lihat. Mungkin akan muncul pengungkapan mendadak terhadap nilai- nilai yang tidak begitu jelas.

Topi kuning mengajak semua orang untuk berusaha menemukan nilai. Misalnya, seseorang sangat menentang suatu gagasan yang sudah ditawarkan. Dengan memakai topi hitam, orang itu mengemukakan semua bahaya dan kerugian dari gagasan tersebut. Kemudian, giliran topi kuning dan semua orang diharapkan menemukan nilai. Jika orang itu tidak bisa menemukan nilai apa pun dalam gagasan tersebut, tetapi orang lain bisa, orang itu akan dianggap bodoh. Jika semua orang bisa menemukan nilai, mengapa Anda tidak bisa? Hal ini sangat berbeda dengan perdebatan yang tidak memerlukan usaha Anda untuk menemukan nilai dalam suatu gagasan yang tidak Anda sukai. Dengan topi kuning, setiap pemikir “ditantang” untuk menemukan nilai. Dalam berargumen, Anda bisa menyombong karena memenangi perdebatan, dengan menyerang sudut pandang yang lain dan mempertahankan sudut pandang Anda sendiri. Dengan berpikir secara paralel, Anda bisa menyombong secara lebih baik dengan setiap jenis topi. Jadi, dengan topi hitam Anda memikirkan lebih banyak hal untuk diwaspadai daripada orang lain, dan dengan topi kuning Anda memikirkan lebih banyak hal yang bernilai daripada orang lain. Dengan cara ini, seluruh kekuatan otak yang tersedia dicurahkan untuk mencoba menjajaki sebuah subjek secara jujur dan menyeluruh. Hal ini bukan lagi persoalan mengajukan kasus atau memenangi sebuah perdebatan. Praktiknya, perbedaan antara kedua pendekatan tersebut sangatlah besar. Apakah Anda akan membeli sebuah mobil mahal, kemudian menggunakan bensin berkualitas rendah sebagai bahan bakar? Untuk apa menggaji orang pintar, tetapi hanya mendapat sebagian dari pemikiran mereka? Karena cara berpikir paralel mendorong setiap pemikir untuk berpikir “tuntas dan objektif’ tentang suatu subjek, metode ini semakin banyak digunakan dalam dunia bisnis. Bayangkan pertemuan di ruang rapat direktur yang dihadiri beberapa orang yang sangat pintar dan berpengalaman, duduk mengitari satu meja. Satu orang sedang berbicara dan mengajukan sebuah strategi. Lalu, yang lain mengerjakan apa?

Sebagian besar mencoba untuk mencari-cari kesalahan dari apa yang dikatakan orang itu. Hal ini memungkinkan mereka untuk berkontribusi dan melatih ego mereka. denar- benar suatu pemborosan kekuatan otak yang besar sehingga harus dibatasi hanya untuk beroperasi dalam kondisi kritis! Untuk apa membayar gaji tinggi kepada orang cerdas dan kemudlan memilih untuk menggunakan hanya sebagian dari pemiklran mereka?

Topi Hijau
Pikirkanlah tentang tanaman, pertumbuhan, dan energi. Pikirkanlah tentang cabang- cabang dan tunas. Pikirkanlah tentang energi kreatif. Topi hijau adalah topi produktif. Topi hijau adalah topi generatif. Topi hijau adalah topi kreatif. Topi hitam dan kuning adalah topi penilaian.
Topi putih meminta informasi. Topi merah meminta perasaan, emosi, dan intuisi.
Topi hijau meminta gagasan, alternatif, kemungkinan, dan rancangan.
Apa saja yang dapat kita lakukan? Apa saja alternatif yang ada?
Mengapa hal ini terjadi? Apa saja penjelasan yang mungkin? Mungkin pemimpin akan berkata,
“Kita membutuhkan beberapa gagasan baru di sini.”
Atau, “Kita membutuhkan beberapa pemikiran topi hijau di sini.”
Topi hijau adalah sebuah ajakan pada kreativitas. Alih alih menunggu kreativitas yang terjadi ketika seseorang mempunyai gagasan, dan orang lain bersiap- siap untuk mengkritik dan kemudian menyerang gagasan tersebut, kini kreativitas merupakan suatu kebutuhan formal. Dengan topi hijau, tersedia waktu, tempat, dan harapan untuk pemikiran kreatif. Semua orang ditantang dan “dipaksa untuk tampil”. Anda harus melakukan suatu usaha kreatif dan kontribusi kreatif. Jika tidak mau, sebaiknya Anda diam saja. Praktiknya, satu hal yang paling menarik adalah bahwa orang yang belum pernah menganggap diri mereka kreatif, tiba- tiba membuat suatu usaha yang kreatif dan menemukan bahwa mereka jauh lebih kreatif daripada yang mereka kira. Orang yang tidak pernah mencetuskan sebuah gagasan kreatif dalam pertemuan serius, sekarang menemukan bahwa ketika kreativitas menjadi suatu “harapan”, mereka dapat menghasilkan gagasan- gagasan baru. Mungkin gagasan yang dikemukakan adalah sebuah gagasan yang diterapkan di tempat lain. Mungkin gagasan tersebut adalah gagasan baru yang telah tersimpan cukup lama. Mungkin gagasan tersebut adalah gagasan baru yang dihasilkan di sana melalui kreativitas alami. Dan mungkin, gagasan tersebut adalah gagasan baru yang dihasilkan melalui penggunaan sarana-sarana berpikir lateral secara formal dan sengaja, seperti entri acak dan provokasi, misalnya. Pencarian alternatif harus selalu mencakup gagasan- gagasan yang sudah jelas. Proses ini diikuti dengan pencarian alternatif yang belum jelas dan usaha untuk menghasilkan alternatif- alternatif baru. Gagasan yang sederhana dan hampir jelas bermanfaat sama dengan gagasan yang eksotis. Gagasan baru bisa berkisar dari gagasan yang sangat logis ketika diungkapkan melalui gagasan yang mungkin hingga gagasan yang sekadar ke- mungkinan dan, akhirnya, gagasan yang lebih dekat pada fantasi (tetapi masih bisa berfungsi untuk memicu gagasan- gagasan yang baik). Begitu kebiasaan kreativitas terbentuk dengan topi hijau, produktivitas yang dihasilkan akan sangat mengejutkan.

Topi hijau adalah sebuah ajakan pada kreativitas. Alih alih menunggu kreativitas yang terjadi ketika seseorang mempunyai gagasan, dan orang lain bersiap- siap untuk mengkritik dan kemudian menyerang gagasan tersebut, kini kreativitas merupakan suatu kebutuhan formal.

Topi Biru
Pikirkanlah “langit biru” dan pemandangan. Topi biru itu ibarat konduktor orkestra. Peran topi biru adalah sebagai pengatur topi lain dan pemikiran. Topi biru berkaitan dengan pengendalian proses. Pada awal diskusi, topi biru mempunyai dua fungsi utama. Fungsi pertama adalah mendefinisikan fokus dan tujuan. Untuk apa kita berada di sini? Apa yang sedang kita pikirkan? Apa tujuan akhir kita? Topi biru mendefinisikan fokus pada tahap awal. Mungkin ada pertimbangan tentang fokus fokus alternatif atau bahkan subfokus. Semua orang bisa ikut serta dalam diskusi dengan pelbagai usulan dan opini. Akhirnya, pemimpin pertemuan akan membuat keputusan. Fungsi kedua dari topi biru adalah untuk menyusun urutan awal pemakaian topi dalam pertemuan. Lagi lagi fungsi ini bisa jadi bahan diskusi. Bagaimana urutan topi apa yang akan kita gunakan? Selama diskusi berlangsung, topi biru mempunyai fungsi utama sebagai pengendali. Misalnya: Sekarang kita sedang memakai topi kuning, tetapi komentar Anda cenderung bersifat topi hitam. Dengan topi merah, Anda hanya mengungkapkan perasaan dan tidak perlu memberikan alasan di balik perasaan itu. Waktu ini adalah untuk topi hijau. Kita butuh beberapa gagasan baru. Topi biru juga bisa menyesuaikan kembali urutan topi yang sudah ditentukan sebelumnya. Sebagai contoh, jika topi merah menunjukkan bahwa kebanyakan orang tidak menyukai gagasan tersebut, topi hitam bisa dile takkan di sampingnya agar orang- orang bisa menjelaskan alasan ketidaksukaan mereka. Dengan demikian, perubahan kecil dalam urutan dilakukan dengan memakai topi biru. Topi biru mempunyai fungsi penting di akhir, yaitu menyatukan hasil, ringkasan, kesimpulan, dan rancangan. Apa yang telah kita capai? Jika tidak ada yang berhasil dicapai, alasan untuk ini dapat dikemukakan:
“Kita membutuhkan informasi lebih banyak mengenai bidang ini.” Atau:
“Kita kekurangan usulan tentang cara- cara untuk keluar dari kekacauan ini.”

Peran topi biru adalah sebagai pengatur topi lain dan pemikiran. Topi biru berkaitan dengan pengendalian proses

Topi biru juga memetakan langkah selanjutnya setelah tahap akhir. Langkah selanjutnya ini dapat berupa pemikiran lebih lanjut atau tindakan. Jika informasi tambahan dibutuhkan, cara- cara untuk mendapatkan informasi baru ini akan diputuskan. Topi biru di awal dan di akhir adalah seperti dua sandaran buku yang menyatukan pemiklran. Untuk apa kita berada di sini? Apa saja yang telah kita capai? Walaupun topi biru menerima diskusi- diskusi dan usulan- usulan, keputusan akhir diambil oleh pemimpin, fasilitator, atau pemimpin kelompok.

Penggunaan Topi
Topi- topi tersebut menjadi simbol yang kuat dan netral dari permintaan akan suatu jenis pemikiran.
“Itu adalah pemikiran topi hitam yang hebat, sekarang mari kita gunakan topi kuning untuk ini.”
“Berikan topi merahmu kepada saya.”
“Apa yang sedang dilakukan topi putih di sini?”
Permintaan- permintaan semacam itu bisa benar- benar diungkapkan dalam bahasa biasa, tetapi sifat artifisial dari keenam topi itu menawar kan suatu sandi yang lebih kuat.
“Tolong, pakai topi hijau, ya” lebih terasa kuat daripada sekadar meminta pemikiran kreatif yang lebih banyak.
“Apa yang kamu lakukan dengan topi merah di sini?” lebih kuat daripada meminta seseorang untuk mengungkapkan perasaan mereka, mereka tidak terbiasa melakukan hal ini.

Sejumlah Manfaat

Topi-topi berpikir memberikan sebuah alternatif bagi perdebatan. Topi-topi tersebut memungkinkan perjajakan bersama terhadap suatu subjek. Topi-topi itu menuntut setiap individu untuk sepenuhnya menjajaki suatu subjek dan bukan sekadar mengajukan dan mempertahankan suatu kasus. Topi topi tersebut memberikan suatu metode cepat untuk pengalihan pemikiran. Topi topi itu memberikan sarana untuk meminta suatu jenis pemikiran tertentu. Topi topi tersebut menggantikan ego dan serangan argumen dengan tantangan menyeluruh untuk men jajaki suatu subjek. Topi topi itu membuat orang-orang mengeluarkan pendapat yang terbaik.

Frekuensi pertemuan dapat dikurangi hingga seperlima atau bahkan lebih dengan menggunakan topi topi berpikir. Topi topi tersebut mudah dipelajari dan digunakan. Topi topi itu telah digunakan oleh anak-anak berumur empat tahun dan para eksekutif senior. Perdebatan tidak diperlukan lagi dengan alasan semata-mata karena tidak ada metode diskusi yang lain.

Jadi, topi itu dapat digunakan secara individual sebagai suatu sandi untuk meminta suatu jenis pemkiran tertentu. Topi ini juga bisa digunakan sebagai suatu urutan yang sudah ditetapkan untuk menjajaki suatu subjek. Urutan topi bisa bervariasi, bergantung pada maksud pemikiran itu: penjajakan; pemecahan masalah; berpikir kreatif; resolusi konflik; dan rancangan. Untuk setiap situasi ini, urutan topi akan bervariasi. Dalam pembicaraan biasa, topi- topi tersebut lebih sering digunakan secara individual.

Ringkasan berpikir Paralel—Enam Topi berpikir

  1. Dalam perdebatan tradisional, setiap pihak menyiapkan sebuah kasus lalu berusaha untuk mempertahankan kasus tersebut dan menyerang kasus yang diajukan oleh pihak lain. Penjajakan subjek yang sebenarnya dibatasi.
  2. Berpikir paralel menggantikan parang argumen dengan suatu penjajakan bersama terhadap suatu subjek karena semua pihak berpikir “paralel” setiap saat.
    Arah pemikiran diindikasikan oleh enam topi berwarna. Masing- masing topi tersebut mengindikasikan suatu cara berpikir. Setiap saat, semua orang “mengenakan” topi dengan warna yang sama. Inilah yang dimaksud dengan “berpikir paralel”.
  3. Topi putih mengindikasikan suatu fokus pada informasi. Apa saja yang kita punya? Apa yang kita butuhkan? Bagaimana kita akan mendapatkan informasi yang kita butuhkan?
  4. Topi merah memberiizin penuh untuk meng ungkapkan perasaan, emosi, dan intuisi tanpa perlu memberikan alasan- alasan di balik perasaan tersebut.
  5. Topi hitam adalah untuk “kewaspadaan” dan berfokus pada kesalahan, kelemahan, hal- hal yang tidak bares, dan mengapa sesuatu tidak “sesual”.
  6. Topi kuning berfokus pada nilai, manfaat, dan bagaimana sesuatu bisa dilakukan.
  7. Topi hijau menyingkirkan waktu, ruang, dan harapan untuk usaha kreatif. Dengan topi hijau, setiap orang diharapkan untuk melakukan usaha tersebut.
  8. Topi biru berkaitan dengan organisasi pemikiran yang menetapkan fokus dan juga menyatukan hasil.
  9. Topi- topi tersebut bisa digunakan satu per satu untuk meminta jenis pemikiran yang tertentu. Hal ini memungkinkan perubahan cepat dalam berpikir.
  10. Topi- topi itu juga bisa digunakan berdasarkan urutan yang telah ditetapkan untuk menjajaki suatu subjek. Urutan tersebut akan berubah sesuai dengan jenis pemikiran yang dibutuhkan.
  11. Topi- topi tersebut memastikan bahwa setiap orang menggunakan pemikiran secara menyeluruh untuk menjajaki subjek. Jika Anda ingin gamer, sekarang Anda bisa melakukan hal ini dengan mengungguli kinerja orang lain dengan masing- masing topi.[]

Seluruh tulisan ini diambil langsung dari Buku How To Have A Bautiful Mind Karya Edward De Bono.